Kamis, 28 Mei 2020

Tau Bajik Ati



Tau Bajik Ati
Oleh: Anzar

P
andemi Covid-19 yang masih menebar ancaman hingga detik ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi masyarakat dunia. Tatanan sosial masyarakat luluh lantak dibuatnya. Aktivitas keseharian umat manusia yang biasa dilakukan sebelum era pandemi Covid-19, seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Covid-19 memang tak terlihat secara kasat mata. Namun, penyebarannya begitu cepat berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Hal ini tentu saja memaksa siapa pun untuk lebih waspada dan menjaga diri dari cengkeraman Covid-19.

Pemerintah dengan segala upaya dan daya, telah berusaha untuk mencegah penyebaran Covid-19. Berbagai tindakan pun telah diambil seperti; lockdown, social distancing, phyisical distancing, work from home, dan juga pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah yang termasuk ke dalam zona merah. Pemerintah juga memberlakukan larangan mudik bagi PNS. Akibat dari larangan mudik itulah, membuat saya bersama teman-teman lain masih bertahan di sini.
Keadaan ini pun membuat kami terpaksa harus menjalani bulan suci ramadan di tanah rantau, jauh dari keluarga. Tidak mudah bagi kami berada pada situasi ini. Makan sahur dan buka puasa harus disiapkan sendiri tanpa bantuan dari tangan lembut seorang ibu. Apalagi, kami hanya sekelompok pemuda lajang dengan kemampuan terbatas pada urusan dapur. Untuk menyiapkan makan sehari-hari saja, tidak lebih dari merebus mie instan, rebus dan goreng telur, goreng ikan dan masak sayur bening. Tak pernah ada masakan dengan olahan berbagai macam bumbu.
Sahur pertama, kami sangat bersyukur karena seorang rekan guru memberikan daging rendang. Kekhawatiran dan kebingungan kami mengenai menu apa yang harus disiapkan, entah harus memasak sendiri dengan menu ala kadarnya ataukah harus membeli akhirnya terjawab sudah. Yah, beliau memang orang Padang jadi wajarlah jika rendang jadi menu pembuka untuk menemani santap sahur pertama. Sama seperti kami, beliau juga harus menjalani bulan suci ramadan di tanah rantau. Bedanya, beliau sudah berkeluarga dan keluarga kecil mereka juga ada di sini. Setidaknya, kehangatan bersama keluarga menyambut bulan ramadan bisa dirasakannya walau berada jauh dari kampung halaman.
Menjelang berbuka puasa, salah seorang tetangga kami datang membawa takjil. Berbagai macam takjil dengan rupa dan warna menarik begitu menggoda iman untuk segera melahapnya. Soal rasa, entahlah bagaimana rasanya. Toh, belum bisa dicicipi juga nanti puasa batal. Kembali, kami tak perlu khawatir dan bingung lagi untuk menyambut waktu berbuka puasa yang tinggal hitungan menit. Senyum sumringah jelas terpancar dari wajah-wajah polos tanpa dosa. Sungguh rezeki tak terduga hadir pada waktu yang begitu tepat. Berharap kejadian ini akan terus berlanjut pada hari-hari berikutnya bahkan hingga hari lebaran nanti. Benar-benar harapan yang sangat mulia dari sekelompok pemuda lajang, polos dan baik hati.
Alhamdulillah, apa yang kami harapkan nyata adanya. Setiap hari menjelang berbuka puasa, tiga orang tetangga kami tanpa komando berbondong-bondong datang membawa takjil. Kadang, mereka datang bergantian seolah sudah ada jadwal. Kadang pula, mereka datang bersamaan pada hari yang sama. Selain tetangga, ada pula rekan guru lain yang jarak rumahnya sedikit jauh dari kami sering datang membawa takjil. Beliau bahkan datang dengan ojek.
Kebaikan mereka sering kali membuat kami malu dan merasa tidak enak hati. Tapi, kami pun tak ingin menghalangi orang lain untuk bersedekah di bulan suci penuh berkah ini. Kebaikan mereka akan selalu mengakar dalam hati kami. Berjanji, di kemudian hari kami bisa membalasnya. Membalas kebaikan mereka para tau bajik ati (Makassar = Orang-orang baik hati).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Dari Bumi Tenggara

Rindu Dari Bumi Tenggara Bunyi sirine KM TIDAR kembali meraung Kali ini jadi tanda peringatan terakhir Riak ombak pelabuhan Ambon sema...