Tau Bajik Ati
Oleh: Anzar
|
P
|
andemi Covid-19
yang masih menebar ancaman hingga detik ini benar-benar menjadi mimpi buruk
bagi masyarakat dunia. Tatanan sosial masyarakat luluh lantak dibuatnya.
Aktivitas keseharian umat manusia yang biasa dilakukan sebelum era pandemi Covid-19,
seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Covid-19 memang tak terlihat
secara kasat mata. Namun, penyebarannya begitu cepat berpindah dari satu orang
ke orang lainnya. Hal ini tentu saja memaksa siapa pun untuk lebih waspada dan
menjaga diri dari cengkeraman Covid-19.
Pemerintah dengan
segala upaya dan daya, telah berusaha untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Berbagai tindakan pun telah diambil seperti; lockdown, social distancing, phyisical distancing, work from home, dan
juga pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai daerah
yang termasuk ke dalam zona merah. Pemerintah juga memberlakukan larangan mudik
bagi PNS. Akibat dari larangan mudik itulah, membuat saya bersama teman-teman
lain masih bertahan di sini.
Keadaan ini pun
membuat kami terpaksa harus menjalani bulan suci ramadan di tanah rantau, jauh
dari keluarga. Tidak mudah bagi kami berada pada situasi ini. Makan sahur dan
buka puasa harus disiapkan sendiri tanpa bantuan dari tangan lembut seorang
ibu. Apalagi, kami hanya sekelompok pemuda lajang dengan kemampuan terbatas
pada urusan dapur. Untuk menyiapkan makan sehari-hari saja, tidak lebih dari
merebus mie instan, rebus dan goreng telur, goreng ikan dan masak sayur bening.
Tak pernah ada masakan dengan olahan berbagai macam bumbu.
Sahur pertama,
kami sangat bersyukur karena seorang rekan guru memberikan daging rendang. Kekhawatiran
dan kebingungan kami mengenai menu apa yang harus disiapkan, entah harus
memasak sendiri dengan menu ala kadarnya ataukah harus membeli akhirnya
terjawab sudah. Yah, beliau memang orang Padang jadi wajarlah jika rendang jadi
menu pembuka untuk menemani santap sahur pertama. Sama seperti kami, beliau
juga harus menjalani bulan suci ramadan di tanah rantau. Bedanya, beliau sudah
berkeluarga dan keluarga kecil mereka juga ada di sini. Setidaknya, kehangatan
bersama keluarga menyambut bulan ramadan bisa dirasakannya walau berada jauh
dari kampung halaman.
Menjelang berbuka
puasa, salah seorang tetangga kami datang membawa takjil. Berbagai macam takjil
dengan rupa dan warna menarik begitu menggoda iman untuk segera melahapnya. Soal
rasa, entahlah bagaimana rasanya. Toh, belum bisa dicicipi juga nanti puasa
batal. Kembali, kami tak perlu khawatir dan bingung lagi untuk menyambut waktu
berbuka puasa yang tinggal hitungan menit. Senyum sumringah jelas terpancar
dari wajah-wajah polos tanpa dosa. Sungguh rezeki tak terduga hadir pada waktu
yang begitu tepat. Berharap kejadian ini akan terus berlanjut pada hari-hari
berikutnya bahkan hingga hari lebaran nanti. Benar-benar harapan yang sangat
mulia dari sekelompok pemuda lajang, polos dan baik hati.
Alhamdulillah,
apa yang kami harapkan nyata adanya. Setiap hari menjelang berbuka puasa, tiga
orang tetangga kami tanpa komando berbondong-bondong datang membawa takjil.
Kadang, mereka datang bergantian seolah sudah ada jadwal. Kadang pula, mereka
datang bersamaan pada hari yang sama. Selain tetangga, ada pula rekan guru lain
yang jarak rumahnya sedikit jauh dari kami sering datang membawa takjil. Beliau
bahkan datang dengan ojek.
Kebaikan mereka
sering kali membuat kami malu dan merasa tidak enak hati. Tapi, kami pun tak
ingin menghalangi orang lain untuk bersedekah di bulan suci penuh berkah ini.
Kebaikan mereka akan selalu mengakar dalam hati kami. Berjanji, di kemudian
hari kami bisa membalasnya. Membalas kebaikan mereka para tau bajik ati (Makassar =
Orang-orang baik hati).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar