Rindu Dari Bumi Tenggara
Bunyi sirine KM TIDAR kembali meraung
Kali ini jadi tanda peringatan terakhir
Riak ombak pelabuhan Ambon semakin menggaung
Seolah berkata “Ayo arungi aku tanpa pikir”
Dering
telepon di balik saku menambah riuh pagi itu
Tangisan
balita, suara bising pedagang, obrolan para penumpang
“Sesaat
lagi kapalku akan berlayar, Ibu”
“Kamu
semakin jauh dariku, Nak”
Air mata
tak mampu dihadang
Gelap langit pagi hari menyambut di Bumi Tenggara
Seolah paham suasana hati penuh duka
Perantauan kali ini sungguh tak terduga
Ambon Manise hanya kenangan, Kota Daeng riwayat tak tersisa
Sore itu senja
jatuh di Bumi Tenggara
Membawa
rindu kian membara
Jantung serasa
tertikam jangkar
Menyayat
hati tertinggal di Makassar
Anzar
Tual, 6 Juli 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar