Bukan Penghalang
Oleh: Anzar
|
J
|
arum jam masih
menunjukkan pukul 09:02 WIT, tapi cuaca panas sudah mulai membuat tubuh
mengucurkan keringat. Sudah beberapa hari terakhir ini, temperatur udara
mengalami peningkatan. Jilatan panas mentari langsung meninggalkan jejak hitam
pada permukaan kulit. Bahkan, di malam hari pun cuaca panas tak kalah hebat
dibanding siang hari. Suasana di rumah terasa seperti berada di tempat sauna.
Sepanjang hari selama
berada di rumah, saya tak pernah lagi mengenakan baju. Memakai baju rasanya
sama saja seperti bunuh diri di tengah cuaca panas sekarang ini. Untungnya,
saya hanya tinggal serumah bersama lima orang teman laki-laki. Tak perlu merasa
risih jika tak mengenakan baju. Toh, mereka juga melakukan hal yang sama.
Cuaca panas memang
menjadi cobaan tersendiri di tengah aktivitas menjalani ibadah puasa. Meski
begitu, saya bersama teman-teman masih bisa menjalankan ibadah lainnya seperti
biasa. Kami masih berangkat ke masjid untuk salat berjamaah. Sedikitpun cuaca
panas tak menjadi penghalang untuk beribadah ke masjid.
Menjelang sore, kami
selalu menghabiskan waktu bercerita di teras rumah. Menadah hembusan angin
surga yang rutin bertiup membuyarkan cuaca panas. Kami menyebutnya sebagai
angin surga karena kehadirannya mampu membasahi dahaga, membelai kerontangan
kulit, dan menyejukkan rasa.
Meski demikian, cuaca
panas ini tetap harus disyukuri. Pada satu sisi, panasnya memang meresahkan
tapi pada sisi yang lain, banyak orang yang bergantung kepadanya. Selalu saja
ada sisi positif dan hikmah yang bisa diambil dari lingkungan dan fenomena alam
yang terjadi di sekitar kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar