Rabu, 20 Mei 2020

Bukan Penghalang



Bukan Penghalang
Oleh: Anzar

J
arum jam masih menunjukkan pukul 09:02 WIT, tapi cuaca panas sudah mulai membuat tubuh mengucurkan keringat. Sudah beberapa hari terakhir ini, temperatur udara mengalami peningkatan. Jilatan panas mentari langsung meninggalkan jejak hitam pada permukaan kulit. Bahkan, di malam hari pun cuaca panas tak kalah hebat dibanding siang hari. Suasana di rumah terasa seperti berada di tempat sauna.

Sepanjang hari selama berada di rumah, saya tak pernah lagi mengenakan baju. Memakai baju rasanya sama saja seperti bunuh diri di tengah cuaca panas sekarang ini. Untungnya, saya hanya tinggal serumah bersama lima orang teman laki-laki. Tak perlu merasa risih jika tak mengenakan baju. Toh, mereka juga melakukan hal yang sama.
Cuaca panas memang menjadi cobaan tersendiri di tengah aktivitas menjalani ibadah puasa. Meski begitu, saya bersama teman-teman masih bisa menjalankan ibadah lainnya seperti biasa. Kami masih berangkat ke masjid untuk salat berjamaah. Sedikitpun cuaca panas tak menjadi penghalang untuk beribadah ke masjid.
Menjelang sore, kami selalu menghabiskan waktu bercerita di teras rumah. Menadah hembusan angin surga yang rutin bertiup membuyarkan cuaca panas. Kami menyebutnya sebagai angin surga karena kehadirannya mampu membasahi dahaga, membelai kerontangan kulit, dan menyejukkan rasa.
Meski demikian, cuaca panas ini tetap harus disyukuri. Pada satu sisi, panasnya memang meresahkan tapi pada sisi yang lain, banyak orang yang bergantung kepadanya. Selalu saja ada sisi positif dan hikmah yang bisa diambil dari lingkungan dan fenomena alam yang terjadi di sekitar kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Dari Bumi Tenggara

Rindu Dari Bumi Tenggara Bunyi sirine KM TIDAR kembali meraung Kali ini jadi tanda peringatan terakhir Riak ombak pelabuhan Ambon sema...