Selasa, 19 Mei 2020

Kue Lebaran



Kue Lebaran
Oleh: Anzar

S
eminggu menjelang hari raya lebaran, udara di sekeliling kompleks perumahan Perumnas Langgur mendadak dipenuhi aroma wangi. Aroma wangi begitu sedap menggelitik hidung dari selepas sahur hingga azan magrib berkumandang. Asap pun mengepul hebat dari rumah tetangga satu ke rumah tetangga lainnya.

Namun, hal demikian tak berlaku di rumah kami. Yah, di rumah ini enam orang pemuda gagah berani dengan status lajang hidup dalam kerukunan. Kami berasal dari latar belakang suku, bahasa, adat dan budaya yang berbeda. Datang sebagai seorang perantau untuk mengabdikan diri pada negara dengan tugas mulia mendidik generasi penerus bangsa di pelosok lain negeri ini.
Aktivitas kami di rumah selama bulan suci ramadhan sebetulnya sama saja dengan masyarakat biasa pada umumnya. Meski terbatas karena masih berada di bawah bayang-bayang covid-19. Dari hari pertama puasa hingga H-7 lebaran semua masih berjalan normal. Tak ada kendala berarti yang kami hadapi dalam menjalankan ibadah puasa.
Lalu, semua berubah sejak aroma wangi mulai menyerang. Kami dibuat gelisah tak karuan setiap detiknya. Langkah-langkah kami ke masjid dengan melewati jejeran rumah tetangga sungguh cobaan yang paling menyiksa. Aroma wangi kue-kue lebaran buatan tetangga menguap meracuni udara. Seketika, kami hanya bisa membayangkan bagaimana rupa dan rasa dari kue-kue itu. Membayangkan jika kami juga melakukan hal yang sama seperti para tetangga. Membuat kue-kue lebaran lezat menyambut hari raya. Namun, siapa di antara kami yang memiliki kemampuan seperti itu? Nyatanya kami hanya sekelompok pemuda gagah berani tanpa bakat dalam urusan dapur.

Bertambah lagi satu kegelisahan dan kesedihan menggelayuti kami di tanah rantau. Kue-kue lebaran buatan ibu juga membuat rindu. Meski rupa dan rasanya hampir selalu sama tiap tahun. Tapi, kali ini semua berubah. Ibu dan kue buatannya terpisah jarak dan rindu dengan kami. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Dari Bumi Tenggara

Rindu Dari Bumi Tenggara Bunyi sirine KM TIDAR kembali meraung Kali ini jadi tanda peringatan terakhir Riak ombak pelabuhan Ambon sema...