Kue Lebaran
Oleh: Anzar
|
S
|
eminggu menjelang hari
raya lebaran, udara di sekeliling kompleks perumahan Perumnas Langgur mendadak dipenuhi
aroma wangi. Aroma wangi begitu sedap menggelitik hidung dari selepas sahur
hingga azan magrib berkumandang. Asap pun mengepul hebat dari rumah tetangga
satu ke rumah tetangga lainnya.
Namun, hal demikian tak
berlaku di rumah kami. Yah, di rumah ini enam orang pemuda gagah berani dengan
status lajang hidup dalam kerukunan. Kami berasal dari latar belakang suku,
bahasa, adat dan budaya yang berbeda. Datang sebagai seorang perantau untuk mengabdikan
diri pada negara dengan tugas mulia mendidik generasi penerus bangsa di pelosok
lain negeri ini.
Aktivitas kami di rumah
selama bulan suci ramadhan sebetulnya sama saja dengan masyarakat biasa pada
umumnya. Meski terbatas karena masih berada di bawah bayang-bayang covid-19. Dari
hari pertama puasa hingga H-7 lebaran semua masih berjalan normal. Tak ada
kendala berarti yang kami hadapi dalam menjalankan ibadah puasa.
Lalu, semua berubah sejak
aroma wangi mulai menyerang. Kami dibuat gelisah tak karuan setiap detiknya.
Langkah-langkah kami ke masjid dengan melewati jejeran rumah tetangga sungguh
cobaan yang paling menyiksa. Aroma wangi kue-kue lebaran buatan tetangga menguap
meracuni udara. Seketika, kami hanya bisa membayangkan bagaimana rupa dan rasa
dari kue-kue itu. Membayangkan jika kami juga melakukan hal yang sama seperti
para tetangga. Membuat kue-kue lebaran lezat menyambut hari raya. Namun, siapa
di antara kami yang memiliki kemampuan seperti itu? Nyatanya kami hanya
sekelompok pemuda gagah berani tanpa bakat dalam urusan dapur.
Bertambah lagi satu
kegelisahan dan kesedihan menggelayuti kami di tanah rantau. Kue-kue lebaran
buatan ibu juga membuat rindu. Meski rupa dan rasanya hampir selalu sama tiap
tahun. Tapi, kali ini semua berubah. Ibu dan kue buatannya terpisah jarak dan
rindu dengan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar