Menelan Rindu
Oleh: Anzar
R
|
amadhan tahun ini terasa
sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pertama kalinya saya harus
merayakan lebaran jauh dari kehangatan keluarga. Terpisah jarak antara Makassar
dan Tual (Maluku Tenggara) sejauh 2.135 km atau 1.326 mil melintasi lautan
Banda.
Agustus 2018 jadi tonggak
sejarah perjalanan hidup saya di Bumi Pattimura. Dinyatakan lulus seleksi PPG
Prajabatan Bersubsidi tahun 2018 menandai babak baru petualangan pendidikan
saya. Mendapat penempatan di Universitas Pattimura Ambon nyatanya sulit
diterima. Ribuan tanya memenuhi kepala, mengapa harus di sana? Bukankah di
Makassar pun ada kampus UNM sebagai penyelenggara PPG? Bagaimana saya akan
menjalani keseharian di sana? Sudah amankah di sana? Mengingat Ambon pernah
dilanda konflik horizontal pada awal tahun 2000-an.
Akhirnya, saya
memberanikan diri untuk merengkuh kesempatan yang tidak semua orang bisa
mendapatkannya. Terlebih saya memang sudah mengidamkan untuk bisa mengikuti PPG
sejak masih menempuh pendidikan S-1. Ketakutan yang semula memenuhi kepala
terjawab dengan pesona Ambon yang berjuluk Kota Musik. Keramahan penduduk
terasa hangat menyapa sepanjang hari. Kearifan lokal Pela-Gandong menjadikan ikatan persaudaran semakin terjalin erat.
Ambon manise membuat siapa saja yang
datang berkunjung berat untuk meninggalkannya.
Selama menjalani masa
perkuliahan PPG, saya mengikuti tes CPNS di Kementerian Agama Provinsi Maluku
formasi guru Bahasa Indonesia. Sekadar coba-coba saja, ternyata saya dinyatakan
lulus. Inilah bonus yang begitu besar saya dapatkan di kota ini. Awalnya datang
untuk kuliah tetapi kemudian pintu lain terbuka untuk mengabdikan diri.
Tual (Maluku Tenggara),
di sinilah saya sekarang dengan tugas mulia mendidik generasi penerus bangsa.
Larangan mudik bagi ASN membuat saya hanya bisa menelan rindu akan kenikmatan
berkumpul bersama keluarga di hari raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar