Jumat, 29 Mei 2020

Kembali ke Jalur



Anzar: Kembali ke Jalur

S
aya lahir pada tanggal 8 Februari 1993 di Bontonompo. Salah satu desa yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pada usia enam tahun, orang tua saya merantau ke Palopo. Meski masih berada di provinsi yang sama, tetapi bagi saya yang masih belia, ini merupakan perjalanan yang jauh dan sulit.

Tiba di Palopo, saya bersekolah di SD. Negeri 6 Mario. Saya terlahir dari orang tua yang tuna aksara. Saya pun belajar keras di sekolah dasar agar bisa menulis dan membaca. Karena saya tahu bahwa orang tua saya tidak bisa mengajarkan menulis dan membaca di rumah. Saya selalu bersemangat mengikuti pelajaran dari ibu guru. Hingga kemudian muncul perasaan ingin menjadi seorang guru. Pada tingkat selanjutnya, saya bersekolah di SMP. Negeri 20 Makassar. Saya mulai sadar jika perasaaan yang muncul untuk menjadi seorang guru pada masa kecil dulu terus tumbuh. Apalagi banyak sosok guru yang menjadi inspirator kala masih di bangku menengah pertama. Pada tingkat atas, saya masuk ke SMK. Pelita Agung Gowa. Cita-cita saya menjadi seorang guru sedikit pun tak pernah padam. Namun, menjadi seorang guru haruslah bergelar sarjana. Demi mengejar impian, saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Saya mengambil jurusan ini, karena begitu terinspirasi dengan guru Bahasa Indonesia di SMP dulu. Selain itu, saya memang senang dan tertarik dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menjadi seorang mahasiswa, artinya semakin dekat untuk menggapai impian. Tidak sabar rasanya ingin segera lulus dan mengabdikan diri menjadi seorang guru.
Desember 2015, saya lulus dan resmi menyandang gelar sarjana. Gelar yang begitu membanggakan bagi keluarga saya. Meski orang tua tuna aksara, namun pengorbanannya sangat besar untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang berpendidikan. Selepas lulus, tidak serta merta saya masuk ke sekolah dan menjadi seorang guru. Inilah tantangan berat yang harus saya hadapi. Ternyata sulit untuk bisa diterima di sekolah-sekolah dan mengabdikan diri. Apalagi jika berstatus sebagai guru honorer. Kata sejahtera hanyalah angan semata. Berulang kali saya keluar masuk dari sekolah satu ke sekolah lainnya mengajukan diri. Namun, hasilnya selalu nihil.
Akhirnya, saya memutuskan untuk terjun ke perusahaan swasta. Benar saja, tidak butuh waktu lama saya sudah diterima bekerja. Setiap bulan gaji yang diterima lebih dari cukup. Impian menjadi seorang guru perlahan memudar seiring dengan nominal gaji besar yang rutin masuk rekening tiap akhir bulan.
Pertengahan 2017, saya memutuskan berhenti dari tempat kerja. Rasa jenuh dengan rutinitas tak mampu terbendung lagi. Saya merasa seperti orang yang kehilangan naluri. Sesaat, saya ingin kembali menjadi seorang guru.
Tahun 2018, saya mengikuti seleksi PPG Prajabatan Bersubsidi. Saya yakin betul, jika inilah jalan saya untuk menjadi seorang guru. Alhamdulillah, saya berhasil lulus dari seleksi tersebut. Agustus 2018, saya berangkat ke Ambon untuk mengikuti perkuliahan PPG. Saya ditempatkan di Universitas Pattimura Ambon bersama teman-teman dari daerah lainnya yang satu jurusan dengan saya yaitu Bahasa Indonesia. Adapula teman-teman pada jurusan Teknologi Hasil Perikanan.

Belum genap satu semester menjalani PPG, pemerintah membuka seleksi penerimaan CPNS. Saya pun ikut mendaftar karena kami sebagai peserta PPG telah mendapat izin untuk mengikuti seleksi. Saya memilih formasi guru pada instansi Kementerian Agama Provinsi Maluku. Awal 2019, saya dinyatakan lulus menjadi PNS dan ditempatkan di MTs. Negeri 1 Maluku Tenggara. Saya juga berhasil menyelesaikan PPG dan diwisuda pada Oktober 2019. Saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan PPG untuk mendapatkan gelar guru profesional dan juga menjadi seorang PNS. Sesuatu yang telah  saya cita-citakan sejak kecil dulu akhirnya bisa terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Dari Bumi Tenggara

Rindu Dari Bumi Tenggara Bunyi sirine KM TIDAR kembali meraung Kali ini jadi tanda peringatan terakhir Riak ombak pelabuhan Ambon sema...