Anzar: Kembali ke Jalur
|
S
|
aya lahir pada
tanggal 8 Februari 1993 di Bontonompo. Salah satu desa yang terletak di Kabupaten
Gowa, Sulawesi Selatan. Pada usia enam tahun, orang tua saya merantau ke
Palopo. Meski masih berada di provinsi yang sama, tetapi bagi saya yang masih
belia, ini merupakan perjalanan yang jauh dan sulit.
Tiba di Palopo,
saya bersekolah di SD. Negeri 6 Mario. Saya terlahir dari orang tua yang tuna
aksara. Saya pun belajar keras di sekolah dasar agar bisa menulis dan membaca.
Karena saya tahu bahwa orang tua saya tidak bisa mengajarkan menulis dan
membaca di rumah. Saya selalu bersemangat mengikuti pelajaran dari ibu guru.
Hingga kemudian muncul perasaan ingin menjadi seorang guru. Pada tingkat
selanjutnya, saya bersekolah di SMP. Negeri 20 Makassar. Saya mulai sadar jika
perasaaan yang muncul untuk menjadi seorang guru pada masa kecil dulu terus
tumbuh. Apalagi banyak sosok guru yang menjadi inspirator kala masih di bangku
menengah pertama. Pada tingkat atas, saya masuk ke SMK. Pelita Agung Gowa.
Cita-cita saya menjadi seorang guru sedikit pun tak pernah padam. Namun,
menjadi seorang guru haruslah bergelar sarjana. Demi mengejar impian, saya
kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Saya mengambil jurusan ini, karena begitu terinspirasi dengan
guru Bahasa Indonesia di SMP dulu. Selain itu, saya memang senang dan tertarik
dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menjadi seorang mahasiswa, artinya
semakin dekat untuk menggapai impian. Tidak sabar rasanya ingin segera lulus
dan mengabdikan diri menjadi seorang guru.
Desember 2015,
saya lulus dan resmi menyandang gelar sarjana. Gelar yang begitu membanggakan
bagi keluarga saya. Meski orang tua tuna aksara, namun pengorbanannya sangat
besar untuk menjadikan anaknya menjadi orang yang berpendidikan. Selepas lulus,
tidak serta merta saya masuk ke sekolah dan menjadi seorang guru. Inilah
tantangan berat yang harus saya hadapi. Ternyata sulit untuk bisa diterima di
sekolah-sekolah dan mengabdikan diri. Apalagi jika berstatus sebagai guru
honorer. Kata sejahtera hanyalah angan semata. Berulang kali saya keluar masuk
dari sekolah satu ke sekolah lainnya mengajukan diri. Namun, hasilnya selalu
nihil.
Akhirnya, saya
memutuskan untuk terjun ke perusahaan swasta. Benar saja, tidak butuh waktu
lama saya sudah diterima bekerja. Setiap bulan gaji yang diterima lebih dari
cukup. Impian menjadi seorang guru perlahan memudar seiring dengan nominal gaji
besar yang rutin masuk rekening tiap akhir bulan.
Pertengahan 2017,
saya memutuskan berhenti dari tempat kerja. Rasa jenuh dengan rutinitas tak
mampu terbendung lagi. Saya merasa seperti orang yang kehilangan naluri.
Sesaat, saya ingin kembali menjadi seorang guru.
Tahun 2018, saya
mengikuti seleksi PPG Prajabatan Bersubsidi. Saya yakin betul, jika inilah
jalan saya untuk menjadi seorang guru. Alhamdulillah, saya berhasil lulus dari
seleksi tersebut. Agustus 2018, saya berangkat ke Ambon untuk mengikuti
perkuliahan PPG. Saya ditempatkan di Universitas Pattimura Ambon bersama
teman-teman dari daerah lainnya yang satu jurusan dengan saya yaitu Bahasa
Indonesia. Adapula teman-teman pada jurusan Teknologi Hasil Perikanan.
Belum genap satu
semester menjalani PPG, pemerintah membuka seleksi penerimaan CPNS. Saya pun ikut
mendaftar karena kami sebagai peserta PPG telah mendapat izin untuk mengikuti
seleksi. Saya memilih formasi guru pada instansi Kementerian Agama Provinsi
Maluku. Awal 2019, saya dinyatakan lulus menjadi PNS dan ditempatkan di MTs.
Negeri 1 Maluku Tenggara. Saya juga berhasil menyelesaikan PPG dan diwisuda
pada Oktober 2019. Saya sangat bersyukur bisa menyelesaikan PPG untuk
mendapatkan gelar guru profesional dan juga menjadi seorang PNS. Sesuatu yang
telah saya cita-citakan sejak kecil dulu
akhirnya bisa terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar